Dulu, cyber crime sering digambarkan sebagai pekerjaan seorang hacker yang bergerak sendirian. Ia dianggap harus memahami pemrograman, jaringan, server, dan keamanan komputer sebelum bisa melakukan serangan.
Sekarang, keadaan sudah berubah. Kejahatan digital berkembang menjadi pasar gelap. Orang yang tidak terlalu memahami teknologi dapat membeli tools, menyewa jasa serangan, atau membeli akses ke website yang sudah diretas.
Penjualnya bekerja seperti penyedia layanan digital biasa. Mereka membuat katalog, menjelaskan fitur, memberikan pembaruan software, melayani pembeli, dan menerima pembayaran.
Di Indonesia, penawaran seperti ini sering ditemukan melalui Telegram dan komunitas tertutup. Barang yang ditawarkan dapat berupa tools phishing, jasa DDoS, webshell, akses website, database curian, hingga jasa SEO untuk situs judi online.
Model seperti ini dikenal sebagai Cyber Crime as a Service, yaitu ketika kemampuan melakukan kejahatan digital dijual sebagai produk atau jasa.
Telegram Menjadi Pasar Cyber Crime
Telegram sebenarnya merupakan aplikasi komunikasi biasa. Namun, fitur channel, grup besar, bot otomatis, pengiriman file, dan penggunaan username ikut dimanfaatkan oleh pelaku cyber crime.
Penjual dapat membuat channel untuk menampilkan produk. Pemesanan dilakukan melalui pesan pribadi atau bot. Jika sebuah channel ditutup, mereka bisa membuat channel baru dan memindahkan anggotanya.
Dittipidsiber Bareskrim Polri pernah membongkar jaringan penjualan phishing tools lintas negara. Telegram digunakan untuk berkomunikasi, melakukan transaksi, dan mengirim script kepada pembeli.
Menurut Polri, jaringan itu memiliki sekitar 2.440 pembeli selama 2019–2024 dan dikaitkan dengan sekitar 34.000 korban di berbagai negara. Kerugiannya diperkirakan mencapai Rp350 miliar.
Sumber: Tribrata News PolriKasus tersebut menunjukkan bahwa Telegram dapat menjadi bagian dari sistem penjualan dan penyebaran tools cyber crime.
Tools Hacking Dijual Seperti Software Biasa
Dalam komunitas underground, tools hacking sering dipasarkan seperti produk digital legal. Penjual menampilkan tangkapan layar, daftar fitur, versi terbaru, panduan penggunaan, dan testimoni.
Tools yang ditawarkan dapat berupa script phishing, program pencuri akun, alat pengirim spam, panel serangan, atau scanner yang diklaim dapat menemukan kelemahan website.
Pembelinya tidak selalu mempunyai kemampuan teknis. Sebagian hanya mengikuti petunjuk dari penjual. Tools siap pakai membuat orang yang bukan hacker berpengalaman tetap bisa melakukan serangan.
Pembeli tools ilegal juga dapat menjadi korban. Program yang terlihat seperti alat hacking bisa berisi malware untuk mencuri akun, file, uang, atau dompet kripto milik pembelinya sendiri.
Penelitian DarkGram terhadap ratusan channel cyber crime di Telegram menemukan bahwa 28,1 persen tautan yang dianalisis mengandung phishing. Penelitian itu juga menyebut 38 persen file executable yang diperiksa terdeteksi membawa malware.
Sumber: DarkGram ResearchDi pasar gelap tidak ada perlindungan konsumen. Penjual dapat menghilang setelah menerima pembayaran, memberikan program palsu, atau memasukkan akses tersembunyi ke dalam tools yang dijual.
Jasa SEO untuk Situs Judi Online
SEO atau Search Engine Optimization sebenarnya merupakan kegiatan legal. SEO digunakan agar sebuah website lebih mudah ditemukan melalui Google.
Masalah muncul ketika teknik tersebut digunakan untuk mempromosikan judi online.
Pada Agustus 2025, Polda Jawa Barat mengungkap jaringan penyedia jasa SEO yang dipakai untuk menaikkan posisi situs judi online di hasil pencarian. Enam tersangka diamankan dan diduga telah menjalankan kegiatan tersebut sejak 2023.
Sumber: ANTARA Jawa BaratTujuannya adalah membuat situs judi muncul di halaman awal Google. Semakin tinggi posisinya, semakin besar kemungkinan pengguna membuka situs tersebut.
Pelaku juga dapat menanam halaman judi pada website lain yang telah diretas. Website sekolah, organisasi, perusahaan, dan layanan publik bisa tiba-tiba menampilkan konten judi atau mengarahkan pengunjung ke situs lain.
Salah satu kasus yang ramai adalah situs lama PeduliLindungi.id. Komdigi menyatakan bahwa situs tersebut pernah disusupi dan menampilkan konten yang mengarah ke perjudian online.
Sumber: Kementerian Komunikasi dan DigitalPenelitian lain mengenai penyusupan konten judi di Indonesia menemukan 453 halaman website yang terdampak dalam waktu satu bulan. Polanya meliputi perubahan kata kunci, pemasangan tautan tersembunyi, dan pengalihan pengunjung.
Sumber: Penelitian Online Gambling DefacementJasa DDoS untuk Menjatuhkan Website
DDoS atau Distributed Denial of Service adalah serangan yang membanjiri server dengan lalu lintas dalam jumlah besar. Akibatnya, website menjadi lambat atau tidak bisa diakses oleh pengguna normal.
Sekarang muncul layanan DDoS-for-hire, yaitu jasa DDoS yang dapat disewa. Pembeli tidak perlu membangun infrastruktur serangan sendiri.
Pembeli biasanya hanya menyerahkan alamat target dan memilih durasi. Infrastruktur serangan dijalankan oleh penyedia jasa.
Beberapa layanan memakai istilah seperti pengujian server atau stress testing. Pengujian seperti itu hanya legal jika dilakukan terhadap sistem sendiri atau dengan izin pemilik. Menyerang sistem orang lain tanpa izin tetap merupakan tindak kejahatan.
Analisis Kaspersky yang diberitakan Katadata menyebut Telegram digunakan untuk memperdagangkan berbagai layanan kriminal, termasuk jasa DDoS. Aktivitas cyber crime di platform tersebut dilaporkan meningkat 53 persen pada Mei–Juni 2024 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menggambarkan tren global.
Sumber: Katadata dan KasperskyWebshell Menjadi Barang Dagangan
Webshell adalah script yang ditanam di dalam server website. Script tersebut dapat memberikan pelaku akses jarak jauh ke server yang telah disusupi.
Sumber: Cybersecurity and Infrastructure Security AgencySecara sederhana, webshell dapat dianggap sebagai pintu belakang tersembunyi di dalam sebuah website.
Setelah mendapatkan akses, pelaku tidak selalu langsung merusak website. Akses tersebut dapat disimpan dan kemudian dijual kepada pihak lain.
Pembeli dapat memakainya untuk:
- memasang halaman judi online;
- menyebarkan phishing;
- menanam backlink dan konten spam;
- mengirim email spam dari server korban;
- atau memakai server untuk serangan lainnya.
Satu akses juga dapat dijual kepada beberapa orang. Akibatnya, satu server korban bisa dimasuki oleh beberapa kelompok dengan tujuan berbeda.
Namun, banyak penawaran webshell juga merupakan penipuan. Penjual bisa memberikan akses palsu, akses yang sudah mati, atau akun dengan izin sangat terbatas.
Cyber Crime Memiliki Pembagian Kerja
Cyber crime modern tidak selalu dikerjakan oleh satu orang. Setiap pelaku dapat mempunyai tugas berbeda.
- Ada pihak yang mencari kelemahan website.
- Ada pembuat tools dan script.
- Ada penjual atau reseller.
- Ada pengelola bot dan channel Telegram.
- Ada penyedia rekening penampung pembayaran.
- Ada pembeli yang menggunakan jasa tersebut.
Dalam bisnis judi online, misalnya, pengelola situs tidak harus memiliki hacker sendiri. Mereka dapat membeli akses website, menyewa jasa SEO, membeli backlink, atau membayar pihak lain untuk menyebarkan konten.
Karena itu, memblokir satu situs tidak langsung menghentikan seluruh jaringan. Pelaku dapat membuat domain baru, memindahkan promosi, dan membeli layanan teknis dari penyedia lain.
Komdigi menyatakan bahwa penanganan judi online tidak cukup hanya dengan memblokir situs. Pemerintah juga perlu menyasar jaringan pelaku, layanan pendukung, rekening, dan aliran dananya.
Sejak 20 Oktober 2024 hingga 12 Juli 2026, Komdigi menyebut telah menangani sekitar 3,7 juta situs dan konten terkait judi online. Sekitar 38.000 rekening juga dilaporkan karena diduga berkaitan dengan aktivitas tersebut.
Sumber: Kementerian Komunikasi dan DigitalCyber Crime Telah Menjadi Industri Jasa
Cyber crime sekarang bukan hanya tentang seorang hacker yang bekerja sendirian. Di belakangnya terdapat pembuat tools, penjual akses, reseller, pengelola channel, tenaga promosi, dan pembeli.
Telegram digunakan untuk mempertemukan penjual dan pelanggan. SEO dipakai untuk mendatangkan pengunjung. DDoS dijual untuk mengganggu target. Webshell dan akses website yang diretas diperlakukan seperti barang dagangan.
Model ini membuat kejahatan digital lebih mudah dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai kemampuan teknis tinggi. Mereka hanya perlu memiliki uang dan menemukan penyedia layanan.
Melalui artikel ini, AnomaliPedia ingin menunjukkan bahwa cyber crime bukan hanya persoalan hacker dan tools. Cyber crime telah berkembang menjadi pasar gelap dengan produk, pelanggan, pembagian kerja, dan sistem bisnisnya sendiri.
